MK07 โ Epidemiologi dan Surveilans Kesehatan Haji Terapan
Dokter kloter yang mengandalkan data SISKOHAT atau rekam medisnya sendiri untuk membuat keputusan atau laporan perlu memahami bahwa kedua sumber ini memiliki keterbatasan yang berbeda โ mengetahui keterbatasan ini mencegah kesimpulan yang keliru dari data yang tampak lengkap namun sebenarnya tidak dirancang untuk tujuan evaluasi mendalam.
Modul ini penting sebagai pelengkap Modul 2, karena desain evaluasi apa pun hanya sebaik kualitas data yang mendasarinya.
SISKOHAT menyimpan data pendaftaran, pemeriksaan kesehatan pra-keberangkatan, dan penetapan istithaah bagi seluruh calon jemaah Indonesia. Namun SISKOHAT pada dasarnya dirancang untuk kebutuhan administrasi penyelenggaraan, bukan untuk kebutuhan riset epidemiologi mendalam, sehingga variabel klinis yang tersedia sering terbatas pada kategori diagnostik luas tanpa detail klinis rinci.
Rekam medis yang dihasilkan TKHI selama pendampingan kloter dan KKHI sebagai fasilitas rujukan menyediakan data klinis yang lebih rinci dibandingkan SISKOHAT, namun menghadapi tantangan kualitas yang berbeda: format pencatatan yang belum sepenuhnya terstandardisasi antar-kloter, keterbatasan waktu pencatatan di tengah beban kerja lapangan yang tinggi (lihat MK06 Modul 4), dan proses digitalisasi yang pada banyak periode masih berlangsung parsial.
| Dimensi | Pertanyaan Pemeriksaan | Contoh Masalah |
|---|---|---|
| Kelengkapan | Apakah seluruh field data terisi? | Waktu kejadian hanya tercatat 'pagi'/'siang' tanpa jam pasti |
| Akurasi | Apakah data sesuai kondisi sesungguhnya? | Kesalahan pencatatan diagnosis di tengah beban kerja tinggi |
| Konsistensi | Apakah data sama antar-sumber? | Diagnosis di SISKOHAT berbeda dengan rekam medis TKHI |
| Ketepatan waktu | Apakah pencatatan dilakukan segera setelah kejadian? | Pencatatan tertunda hingga akhir sesi jaga |
Dokter kloter dapat menerapkan triangulasi antar-sumber (membandingkan SISKOHAT dengan rekam medis TKHI untuk subset kasus tertentu), pengumpulan data tambahan terstruktur terbatas sebagai pelengkap, atau berkoordinasi langsung dengan tim TKHI/KKHI untuk memperbaiki instrumen pencatatan.
Seorang dokter kloter yang ingin mengevaluasi pola kejadian heat exhaustion di kloternya mengecek kelengkapan rekam medis TKHI dan menemukan bahwa sebagian catatan tidak mencantumkan waktu kejadian secara presisi, hanya 'pagi' atau 'siang'. Alih-alih mengabaikan keterbatasan ini, ia mendokumentasikannya secara eksplisit dalam catatan evaluasinya, dan mulai membiasakan timnya mencatat jam kejadian secara lebih presisi untuk periode berikutnya โ langkah kecil yang memperbaiki kualitas data untuk evaluasi selanjutnya.
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia / Kementerian Agama RI. Laporan Kesehatan Haji Indonesia (data SISKOHAT). Jakarta. [URL belum diverifikasi] [DATA: rujuk laporan resmi Kemenhaj/Kemenkes musim haji terbaru]